MIMBAR PESANTREN DAN SEMINAR NASIONAL

MIMBAR PESANTREN DAN SEMINAR NASIONAL

BERSAMA Dr. (HC) Ir. KH. SALAHUDIN WAHID

(TEMA)

MENCETAK INSAN PENDIDIK BERBASIS NILAI-NILAI LUHUR KEBHINEKAAN

 

Kegiatan mimbar pesantren yang dilaksanakan di kampus STAI AL HIKMAH Tuban oleh HIMMA PRODI MPI (Manajemen Pendidikan Islam) ini, bertepatan pada tanggal 16 Desember 2017. Dr. (HC) Ir. KH. SALAHUDIN WAHID, sosok Ulama’, Aktivis, dan Tokoh Nasional Indonesia ini dapat hadir memberikan banyak ilmu bagi Mahasiswa STAI AL HIKMAH Tuban.

  1. M. HUSNAN DIMYATI selaku ketua yayasan AL HIKMAH turut berbahagia atas kehadiran GUS SHOLAH, panggilan akrab Dr. (HC) Ir. KH. SALAHUDIN WAHID. Di dalam pidato beliau, Romo kyai Husnan berharap bahwa semoga Yayasan Al Hikmah ini mendapatkan berkah atas kerawuhanya Gus Sholah.

Kegiatan mimbar pesantren ini diikuti oleh lebih dari 550 peserta, baik dari kalangan mahasiswa/i  STAI Al Hikmah Tuban sendiri, bahkan mahasiswa dari kampus luar, mulai dari STAI At Tanwir, STITMA Tuban, Universitas Ronggolawe Tuban, POLTANA MAPENA Tuban, IKIP PGRI Bojonegoro, UNIGORO, Universitas Terbuka TUBAN, UNSURI, dan masih banyak lagi.

Gus Sholah memberikan banyak sekali ilmu pada kita semua. Kita sebagai calon pendidik harus mampu memberikan nilai-nilai luhur kebhinekaan kepada peserta didik kita, kita harus menjadi mediator penggerak bagi anak didik kita. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang kurang baik yang dapat memberikan penilaian buruk bagi seorang pendidik. Dalam hal ini beliau berpesan kepada kita semua “Berbuat Baiklah Sebagai Apapun Di Manapun Dan Kapanpun”. Menurut beliau pendidikan yang harus di nomersatukan adalah pendidikan keluarga. Karena baik tidaknya seorang anak didik itu tergantung di pendidikan pertamanya yakni di rumah. Orang tua harus memberikan pengertian kepada anaknya, mulai dari cara berinteraksi yang baik, hormat kepada yang tua,  lebih-lebih terhadap gurunya. Karena banyak kita jumpai di era Globalisasi ini, banyak anak yang pendidikan karakternya kurang dan akhirnya berani terhadap Gurunya, bahkan banyak guru yang angkat tangan dan sampai-sampai seorang gurupun bertindak keras terhadap anak didik yang nakalnya melampaui batas itu. Dalam hal ini Gus Sholah berpesan dan memberikan solusi  bahwa kita sebagai pendidik tidak harus memakai kekerasan dalam hal ini, akan tetapi kitasebagai pendidik langkah pertama yang harus di lakukan yakni , lapor kepada kepala sekolah, kemudian panggil orang tuanya, dan memberikan sangsi kepada murid yang nakal tersebut. Maka dari itu, kita sebagai calon pendidik, mari kita mulai belajar menanamkan pendidikan karakter (akhlaqul karimah) di tingkat awal, dengan ini, insya allah seorang anak akan mampu bertingkah laku yang sesuai dengan ajaran syari’at islam.

Terdapat beberapa pesan yang Gus Sholah berikan dalam beberapa kata mutiara, misalnya

“SANTRI YANG BAIK ADALAH SANTRI YANG KETIKA PULANG DIA BISA MENJALANKAN APA YANG DI PELAJARI DI PONDOK PESANTREN”

“JANGAN BELAJAR AGAMA UNTUK MENJADI PEMUKA AGAMA, BERKUASA, DAN KAYA.”

“BELAJARLAH HANYA UNTUK MENDAPATKAN RIDHO DARI ALLAH SWT”

“JADIKANLAH BELAJARMU ITU JALAN BAGI KITA UNTUK MENJALANKAN PERINTAH AGAMA DAN MENJADI MANFAAT BAGI ORANG BANYAK”

“KARENA SEBAIK-BAIK ORANG ADALAH ORANG YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN.”

Sungguh pesan yang luar biasa sekali bagi kita semua, kita bisa menjadikan ini pedoman untuk bekal di masa mendatang , ketika kita mendapatkan amanah mengajar di sebuah lembaga, bahkan kita juga bisa gunakan untuk bekal membenahi diri kita sendiri, memuhasabah diri. Semoga kita bisa menjadi insan yang peduli tentang pendidikan karakter yang ada di indonesia tercinta ini (MSH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *